Denpasar, 20 Februari 2026 – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Bali terus memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan kompetensi GTK. Optimalisasi kinerja dalam meningkatkan kompetensi GTK secara berkelanjutan yang lebih berdampak menjadi salah satu fokus BGTK Bali tahun ini. Hal itu mendasari diselenggarakannya pemetaan kompetensi pada tanggal 23 s.d 31 Januari 2026, dengan sasaran guru ASN seluruh jenjang sejumlah 27.588 orang dari 9 Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Bali. Adapun kompetensi yang dipetakan mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, yang diolah dan dicari data di bawah standar, sesuai standar, dan di atas standar. Hasilnya, 13,7% dari Kabupaten Badung, 5,2% dari Kabupaten Bangli, 20,4% dari Kabupaten Buleleng, 12,3% dari Kota Denpasar, 12,0% dari Kabupaten Gianyar, 6,1% dari Kabupaten Jembrana, 12,2% dari Kabupaten Karangasem, 6,3% dari Kabupaten Klungkung, dan 11,8% dari Kabupaten Tabanan. Berdasarkan hasil pemetaan kompetensi tersebut, ditemukan adanya kesenjangan antara capaian kompetensi guru saat ini dengan kompetensi yang seharusnya dimiliki sesuai jenjang jabatannya. Masih terdapat guru yang berada pada kategori di bawah standar minimal jenjang jabatannya.
Tentu hasil tersebut menunjukkan bahwa diperlukan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru, agar dapat memiliki standar yang sesuai dengan harapan. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Penyusunan dan Pengembangan Model, Modul, dan Media Pelatihan Provinsi Bali Tahun 2026, yang dibuka secara resmi oleh I Wayan Surata, Kepala BGTK Provinsi Bali, Rabu sore (18/2), di Arjuna Ballroom, Quest San Denpasar. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut refleksi pemetaan kompetensi, yang menyasar Guru ASN dengan jenjang jabatan dari Ahli Pertama hingga Utama. Dalam arahannya, Surata berharap akan tersusun model yang berbasis kebutuhan, modul yang aplikatif dan kontekstual, dan media yang adaptif dan mudah diakses, serta direplikasi oleh GTK. “Mari bekerja dengan semangat Satya, Widya, Wibawa berbekal budaya Bali “Ngayah”, kita bekerja tulus demi kemajuan bersama. Menyusun bukan sekadar dokumen, tetapi masa depan pendidikan Bali”, tegas beliau.
Dokumen yang disusun tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mengintegrasikan pengalaman praktik, refleksi, serta kebutuhan nyata di lapangan. Peserta yang terdiri dari unsur widyaiswara, pengembang teknologi pembelajaran, dan tenaga teknis lainnya bekerja secara kolaboratif dalam kelompok untuk menyusun draf model pelatihan, modul, serta media pendukung yang selaras dengan indikator kompetensi yang telah ditetapkan. Sebagai bagian dari inovasi, setiap kelompok juga melakukan simulasi pengembangan media pelatihan untuk memastikan keterpaduan antara model, modul, dan media pembelajaran. Draf yang telah disusun selanjutnya akan melalui proses kurasi oleh narasumber guna memastikan kualitas dan relevansi model pelatihan yang dikembangkan. Model pelatihan ini dirancang sebagai dokumen dinamis yang dapat terus disempurnakan melalui evaluasi dan refleksi, sehingga mampu menjawab tantangan pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan yang terus berkembang.
Kepala BGTK Provinsi Bali, dalam arahannya saat pembukaan kegiatan juga menegaskan bahwa pengembangan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan, kontekstual, dan berbasis kebutuhan nyata di satuan pendidikan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar menyusun dokumen administratif, tetapi merupakan langkah strategis dalam membangun arsitektur peningkatan kompetensi guru di masa depan. Lebih lanjut disampaikan bahwa BGTK Bali memiliki peran strategis untuk memastikan program pelatihan tidak bersifat seremonial semata, melainkan mampu memberikan dampak nyata terhadap perubahan praktik pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, model pelatihan yang dikembangkan harus sistematis, terukur, dan mampu menjawab kebutuhan guru secara spesifik.

Model Pelatihan Inovatif Berbasis Kebutuhan dan Refleksi
“Kata kunci pengembangan ini adalah refleksi. Model yang disusun perlu bersifat reflektif, memberi ruang bagi pendidik dan pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi berkelanjutan, sehingga model yang dikembangkan benar-benar adaptif, kontekstual, dan selaras dengan program prioritas nasional.”, pesan Surata. Sebagai bagian dari penguatan peran kelembagaan dalam pengembangan kompetensi guru, BGTK Bali menghadirkan pendekatan pelatihan yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis praktik dan produk nyata. Peserta mendapatkan materi strategis yang mencakup strategi pengembangan model pelatihan peningkatan kompetensi guru, penyusunan modul pelatihan, serta pengembangan media pelatihan berbasis digital.
Tidak hanya memahami konsep, peserta juga terlibat langsung dalam praktik pengembangan model pelatihan, penyusunan modul, serta perancangan media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan guru. Pendekatan ini memastikan bahwa pelatihan menghasilkan perangkat pembelajaran yang aplikatif dan siap digunakan. Selain itu, peserta dibekali kemampuan dalam menyusun laporan kegiatan, melakukan evaluasi pelatihan, serta merancang tindak lanjut implementasi di satuan pendidikan. Pada tahap lanjutan, peserta juga melaksanakan praktik penyusunan modul pelatihan berbasis analisis hasil pemetaan kompetensi guru, serta praktik pengembangan media pelatihan yang mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan berpusat pada peserta didik.

Melalui pendekatan ini, BGTK Bali terus memperkuat inovasi model pelatihan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi pedagogik guru, khususnya dalam merancang asesmen, mengelola kelas, dan menyusun desain pembelajaran yang terstruktur dan berurutan. Model pelatihan yang dikembangkan mengedepankan pendekatan berbasis kebutuhan (needs-based), menggunakan prinsip andragogi, serta mengintegrasikan experiential learning. Selain itu, model ini dirancang menggunakan pola berkelanjutan seperti IN–ON–IN dan didukung oleh pemanfaatan teknologi melalui sistem pembelajaran daring. Pada hari terakhir, penanggung jawab kegiatan, Ferdiana Rosyidah memaparkan bahwa hasil evaluasi kegiatan menunjukkan respons positif dari peserta dengan rata-rata nilai evaluasi sebesar 3,5 atau kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan inovatif yang diterapkan mampu mendorong keterlibatan aktif peserta serta memperkuat kapasitas internal lembaga. Melalui pengembangan model pelatihan ini, BGTK Bali berkomitmen untuk menghadirkan sistem pelatihan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berdampak nyata, serta memperkuat peran BGTK Bali sebagai pusat pengembangan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di Provinsi Bali.
“Sebagai bagian dari pendekatan reflektif dan adaptif, hasil pengembangan ini diposisikan sebagai living document yang terbuka terhadap masukan dan penyempurnaan berkelanjutan. Kita tidak sekadar menyusun dokumen, tetapi sedang membangun arsitektur peningkatan kompetensi guru untuk masa depan pendidikan Bali.”, ujar Kepala BGTK Bali, saat menutup kegiatan ini sore tadi (20/2).
Tim Humas dan Publikasi
Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Bali
Direktorat Jenderal GTKPG
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Pertanyaan dan Pengaduan : wa.me/6288808534047
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
#bgtkbali